Rabu, 23 November 2016

Tugas 4 Resensi Novel Pasung Jiwa



NAMA :ILHAM FIRDAUS
NIM :D1B016066
Resensi Novel Pasung Jiwa Oleh Karangan Okky Madasari
Judul Buku : Pasung Jiwa 
Penulis : Okky Madasari 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan : Mei 2013 
Tebal : 324 halaman 
 Di sebuah kelahirannya, Sasana telah mengalami berbagai belenggu batin Ia terlahir sebagai seorang lelaki berada dalam lingkup keluarga yang kontras pendengaran berbeda dengan ayah dan ibunya di kehidupannya ambivalensi yang bercokol, terus menggerogoti dirinya, hingga pada suatu frase substansial yang terus berkontradiksi di jiwanya merekam, "Manakah Kebebasan?". Tak dapat disangsikan, bahwa yang ia terima sebagai pemasungan pada jiwanya ialah perihal tak dapat menyenangkan dirinya, Pertemanannya bersama Jaka Wani, didapatkannya raihan genggaman kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan. Ia tak malu dengan penampilan yang ia gunakan, dan menjadikan dirinya begitu gemulai persis seorang wanita, itu juga awal kegembelannya. 
 Kerja kerasnya bersama Jaka Wani menghadapkannya pada berbagai persoalan tak kunjung usai; kekerasan, penindasan, dan varian pemasungan terhadap jiwa,Sasana mendapatkan gairah hidupnya kembali setelah ia mengalami pembebasan dari sebuah rumah sakit jiwa yang sengaja ia dijebloskan oleh ibunya sendiri agar direhabilitasi, Pendekatannya bersama Masita yang salah seorang perawat telah menenangkan jiwanya. 

Namun di sisi selainnya adalah Jaka Wani yang terpisah dengan Sasana setelah insiden penangkapan mereka di aksi demonstrasi kala itu, terkulai dan menjalani kehidupan yang baginya begitu asing, harus diperintah. Pengalaman pada hidupnya yang selalu hadir dalam ingatannya, ialah Elis seorang PSK Hingga pada akhirnya Jaka Wani mengubah pola hidupnya dengan bergabung para kelompok berjubah surban ,Nuansa kekecewaan tumbuh dalam naluri di keduanya. Bahkan Jaka Wani merasa terhina dengan ulahnya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk bersikap empati, walaupun dirinya telah terlena dengan sikap ambiguitasnya Akhirnya dengan cara liciknya, memakai jubah surban maksud menyamar dan mengajak Sasana keluar dari sel dengan alasan demi pengidentifikasian yang berpura-pura, mereka pun lolos dengan keberanian yang dituangkan. Kebebasanlah yang mereka terima terlahir dari proses yang ia perjuangkan.
                                                                                                               

 Novel ini memiliki keunggulan pada sebuah kisahnya yang tak carut-marut ketika bernarasi. Plot yang dihadirkan begitu memantik para jiwa yang mengembara dalam kehidupan. Penerusan hilir yang bermuara pada perjuangan memiliki fragmen tersendiri ketika bermain dengan sebuah epos yang berjalan. Memiliki kekurangan yang tidak begitu signifikan. Latar belakang yang tak mapat, direcoki dengan ambiguitas. yang menerobos pertanyaan fundamental, "apakah kebebasan itu?" yang menjadikannya pegangan untuk menerawang masa depannya.


2 komentar: