NAMA :ILHAM FIRDAUS
NIM :D1B016066
Resensi Novel Pasung Jiwa Oleh
Karangan Okky Madasari
Judul
Buku : Pasung Jiwa
Penulis
: Okky Madasari
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
: Mei 2013
Tebal
: 324 halaman
Di
sebuah kelahirannya, Sasana telah mengalami berbagai belenggu batin Ia terlahir
sebagai seorang lelaki berada dalam lingkup keluarga yang kontras pendengaran berbeda
dengan ayah dan ibunya di kehidupannya ambivalensi yang bercokol, terus
menggerogoti dirinya, hingga pada suatu frase substansial yang terus
berkontradiksi di jiwanya merekam, "Manakah Kebebasan?". Tak dapat
disangsikan, bahwa yang ia terima sebagai pemasungan pada jiwanya ialah perihal
tak dapat menyenangkan dirinya, Pertemanannya bersama Jaka Wani, didapatkannya
raihan genggaman kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan. Ia tak malu dengan
penampilan yang ia gunakan, dan menjadikan dirinya begitu gemulai persis
seorang wanita, itu juga awal kegembelannya.
Kerja
kerasnya bersama Jaka Wani menghadapkannya pada berbagai persoalan tak kunjung
usai; kekerasan, penindasan, dan varian pemasungan terhadap jiwa,Sasana
mendapatkan gairah hidupnya kembali setelah ia mengalami pembebasan dari sebuah
rumah sakit jiwa yang sengaja ia dijebloskan oleh ibunya sendiri agar
direhabilitasi, Pendekatannya bersama Masita yang salah seorang perawat telah
menenangkan jiwanya.
Namun
di sisi selainnya adalah Jaka Wani yang terpisah dengan Sasana setelah insiden
penangkapan mereka di aksi demonstrasi kala itu, terkulai dan menjalani
kehidupan yang baginya begitu asing, harus diperintah. Pengalaman pada hidupnya
yang selalu hadir dalam ingatannya, ialah Elis seorang PSK Hingga pada akhirnya
Jaka Wani mengubah pola hidupnya dengan bergabung para kelompok berjubah surban
,Nuansa kekecewaan tumbuh dalam naluri di keduanya. Bahkan Jaka Wani merasa terhina
dengan ulahnya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk bersikap empati, walaupun
dirinya telah terlena dengan sikap ambiguitasnya Akhirnya dengan cara liciknya,
memakai jubah surban maksud menyamar dan mengajak Sasana keluar dari sel dengan
alasan demi pengidentifikasian yang berpura-pura, mereka pun lolos dengan
keberanian yang dituangkan. Kebebasanlah yang mereka terima terlahir dari
proses yang ia perjuangkan.
Novel
ini memiliki keunggulan pada sebuah kisahnya yang tak carut-marut ketika
bernarasi. Plot yang dihadirkan begitu memantik para jiwa yang mengembara dalam
kehidupan. Penerusan hilir yang bermuara pada perjuangan memiliki fragmen
tersendiri ketika bermain dengan sebuah epos yang berjalan. Memiliki kekurangan
yang tidak begitu signifikan. Latar belakang yang tak mapat, direcoki dengan
ambiguitas. yang menerobos pertanyaan fundamental, "apakah kebebasan
itu?" yang menjadikannya pegangan untuk menerawang masa depannya.

Great..singkat tepat dan jelas. Tetap semangat menulis
BalasHapusMakasih buk :-)
Hapus