Rabu, 23 November 2016

Tugas 4 Resensi Novel Pasung Jiwa



NAMA :ILHAM FIRDAUS
NIM :D1B016066
Resensi Novel Pasung Jiwa Oleh Karangan Okky Madasari
Judul Buku : Pasung Jiwa 
Penulis : Okky Madasari 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan : Mei 2013 
Tebal : 324 halaman 
 Di sebuah kelahirannya, Sasana telah mengalami berbagai belenggu batin Ia terlahir sebagai seorang lelaki berada dalam lingkup keluarga yang kontras pendengaran berbeda dengan ayah dan ibunya di kehidupannya ambivalensi yang bercokol, terus menggerogoti dirinya, hingga pada suatu frase substansial yang terus berkontradiksi di jiwanya merekam, "Manakah Kebebasan?". Tak dapat disangsikan, bahwa yang ia terima sebagai pemasungan pada jiwanya ialah perihal tak dapat menyenangkan dirinya, Pertemanannya bersama Jaka Wani, didapatkannya raihan genggaman kebahagiaan yang sudah lama ia rindukan. Ia tak malu dengan penampilan yang ia gunakan, dan menjadikan dirinya begitu gemulai persis seorang wanita, itu juga awal kegembelannya. 
 Kerja kerasnya bersama Jaka Wani menghadapkannya pada berbagai persoalan tak kunjung usai; kekerasan, penindasan, dan varian pemasungan terhadap jiwa,Sasana mendapatkan gairah hidupnya kembali setelah ia mengalami pembebasan dari sebuah rumah sakit jiwa yang sengaja ia dijebloskan oleh ibunya sendiri agar direhabilitasi, Pendekatannya bersama Masita yang salah seorang perawat telah menenangkan jiwanya. 

Namun di sisi selainnya adalah Jaka Wani yang terpisah dengan Sasana setelah insiden penangkapan mereka di aksi demonstrasi kala itu, terkulai dan menjalani kehidupan yang baginya begitu asing, harus diperintah. Pengalaman pada hidupnya yang selalu hadir dalam ingatannya, ialah Elis seorang PSK Hingga pada akhirnya Jaka Wani mengubah pola hidupnya dengan bergabung para kelompok berjubah surban ,Nuansa kekecewaan tumbuh dalam naluri di keduanya. Bahkan Jaka Wani merasa terhina dengan ulahnya sendiri. Hingga ia memutuskan untuk bersikap empati, walaupun dirinya telah terlena dengan sikap ambiguitasnya Akhirnya dengan cara liciknya, memakai jubah surban maksud menyamar dan mengajak Sasana keluar dari sel dengan alasan demi pengidentifikasian yang berpura-pura, mereka pun lolos dengan keberanian yang dituangkan. Kebebasanlah yang mereka terima terlahir dari proses yang ia perjuangkan.
                                                                                                               

 Novel ini memiliki keunggulan pada sebuah kisahnya yang tak carut-marut ketika bernarasi. Plot yang dihadirkan begitu memantik para jiwa yang mengembara dalam kehidupan. Penerusan hilir yang bermuara pada perjuangan memiliki fragmen tersendiri ketika bermain dengan sebuah epos yang berjalan. Memiliki kekurangan yang tidak begitu signifikan. Latar belakang yang tak mapat, direcoki dengan ambiguitas. yang menerobos pertanyaan fundamental, "apakah kebebasan itu?" yang menjadikannya pegangan untuk menerawang masa depannya.


Kamis, 17 November 2016

cerpen

SINGLE

           Yaya adalah seorang gadis riang dan jenaka. Ia cerdas juga berbudi pekerti mulia. Ia anak semata wayang dari pasangan yang sangat harmonis. Kehidupannya adalah dambaan gadis sebayanya. Parasnya cantik dan selalu dipuja-puja para lelaki. Ia adalah sosok sempurna yang menjadi idola orang-orang disekitarnya. Sehari-hari Yaya bekerja sebagai bidan di kampungnya. Ia membuka praktik mandiri di rumahnya. Ia jarang menerima uang sebagai bayaran atas jasanya mengobati dan membantu melahirkan ibu-ibu di kampung itu. Niatnya yang sungguh mulia sebagai tenaga kesehatan tak diragukan lagi. Kadang kala, penduduk kampung membawakannya sayuran atau buah-buahan hasil panen sebagai rasa terimakasih mereka. Sosoknya yang mulia dan sempurna itu membuat hati para pemuda tak bisa menahan diri untuk melamarnya. Sudah banyak pemuda kampung yang ditolaknya dengan alasan bahwa Yaya belum siap menikah dan masih ingin memberikan waktunya lebih lama lagi sebagai sukarelawan kesehatan di kampung itu.

        Suatu hari, ibunda Yaya menasehati Yaya untuk segera menikah karena usianya pada saat itu sudah memasuki 27 tahun. Yaya bingung dan merasakan dilemma. Jauh di lubuk hati nya yang paling dalam ia sangat ingin mewujudkan keinginan orang tuanya, namun di sisi lain belum ada pria yang ia anggap sesuai dengan yang ia harapkan. Yaya berjanji pada ibunya bahwa ia akan segera menikah apabila telah bertemu dengan sosok yang ia rasa mampu menjadi pemimpinnya.
Seminggu kemudian, Yaya pergi ke kota untuk membeli stok obat-obatan di sebuah apotek besar. Ia duduk dengan tenang menunggu nomor antriannya mendapat giliran menerima obat yang telah dipesannya. Untuk menghilangkan rasa bosan, akhirnya ia membaca majalah dan Koran yang tersedia di atas meja. Lalu, ada seorang pria yang duduk di sebelahnya. Ia berkata bahwa wajah Yaya tidak asing, seperti ia pernah melihat Yaya di suatu tempat. Namun Yaya tidak mengenali pria itu barang sedikitpun. Yaya bertanya-tanya dalam hati tentang siapa gerangan pria itu. Akhirnya mereka berbincang dan di tengah perbincangan, sang pria menyadari suatu hal bahwa ia pernah melihat Yaya menjadi bintang tamu di salah satu stasiun TV swasta setahun silam. Sang pria sangat hafal dengan Yaya karena baginya Yaya adalah sosok yang sangat menginspirasi anak muda. Kemudian mereka bertukar kartu nama dan pria itu pergi setelah mendapat telpon.

     Yaya membaca kartu nama yang diberi oleh sang pria dan dia terkejut bahwa pria yang baru saja ia ajak bicara barusan adalah seorang dokter bedah syaraf. Kini giliran Yaya yang terkagum-kagum dengan sosok pria itu. Perkenalan singkat itu hanya terjadi begitu saja. Tidak ada kontak melalui telepon ataupun pesan singkat. Tak ada pula surat elektronik yang masuk ke akunnya. Ketika Yaya sudah lupa dengan sosok dokter muda dan tampan itu, tiba-tiba muncul pesan singkat dari dokter tersebut yang mengatakan ingin berkunjung ke kampung dimana Yaya tinggal dan bekerja. Dengan senyum bahagia, Yaya mengizinkannya.
Tepat hari Minggu, dokter muda dan tampan itu datang dengan beberapa mobil. Hal tersebut cukup membuat Yaya dan keduanya heran dan menerka-nerka siapakah yang berkunjung dengan membawa mobil seramai itu. Mereka berpikir bahwa ada kunjungan dari pemerintah dan pejabat Negara yang ingin melakukan survey di kampung mereka. Terkejutlah Yaya ketika melihat sanga dokter muda turun dari mobilnya membawa kedua orang tua dan cukup banyak anggota keluarga. Setelah mereka masuk rumah dan berbincang, diketahuilah bahwa dokter muda bedah syaraf tersebut datang dengan maksud meminang Yaya. Kaget dan gembira menyelimuti hati Yaya. Tentu saja itu juga terpancar dari kedua mata orang tua Yaya. Momen yang ditunggu datang juga ketika anak semata wayangnya itu berucap bersedia untuk menikah. Wajah kedua orang tua sang pria pun tampak lega. Suasana menjadi haru bahagia. Acara pernikahanpun dilaksanakan 2 minggu setelah pelamaran tersebut .

deskripsi diri

NAMA :ILHAM FIRDAUS
NIM :D1B016066
Assalamualaikum wr.wb
            perkenalkan nama saya ILHAM FIRDAUS kelahiran teluk ketapang 02 april 1998 asal tebing tinggi kecamatan tungkal ulu kabupaten tanjung jabung barat ,tebing tinggi adalah dusun yg tidak besar jauh dari kota jambi , yg penuh dgn ladang pertanian contohnya kelapa sawit dan akasia ,pekerjaan masyarakat rata rata adalah petani , asal sekolah SMK NEGERI 2 TUNGKAL ULU jurusan teknik pengelasan
            memang sedikit aneh kejurusan pertanian ini karena semua salah saya karna dulu ayah saya menyarankan ke SMA cuman saya ingin bekerja selepas SMK tapi kenyataan lain setelah tamat saya ingin kuliah karena bekerja diantara pabrik pabrik besar bkan lah hal yg mudah dimasa smk sewaktu pkl itulah saya mersakan ,kemudian orang tua menyarankan kuliah saya mencoba untuk tes SBMPTN yg mana mengambil jurusan pertambangan ,agribisnis dan mesin memang mungkin nasip saya dijurusan ini.
           kami bukanlah dari kalangan yg berada ayah saya hanya tamatan SD dan ibu saya hanya tamatan SMP saya anak kedua dari tiga bersaudara kakak saya permpuan dan adik saya laki laki, tapi saya bahagia karna mempunyai keluarga seperti mereka , dan pengumuman lulus sbmptn pun keluar saya dinyatakan lulus diagribisnis saya merasa bangga dan juga terharu karena bisa lulus dikampus yg saya inginkan .
            pengumuman lulus pertama kali dilihat oleh guru fisika saya , dia yg membantu saya dalam pengurusan daptar ulang ,yg anehnya lagi guru bahasa indonesia saya tidak percaya bahwa saya kuliah karena saya bukan lah murid yg pandai dan juga aktip dalam segala hal ,tapi itulah nasip semua ada yg mengaturnya.
           moto hidup saya pikirkan rencanakan dan lakukan karena seseorang yg banyak memikirkan dan tidak melakuakan akan menambah angka rusah sakit jiwa ...
wassalamualaikim wr.wb

deskripsi diri

tugas makalah

MAKALAH TENTANG BERBICARA
C:\Users\User\Downloads\images.jpg

DISUSUN OLEH
ILHAM FIRDAUS
D1B016066
DOSEN PEMBIMBING:SHINTA ANGGREANY. SP.M,Si

FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
UNIVERSITAS JAMBI
T.A 2016/2017






KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr .wb
Segala  puji  bagi  Allah SWT yang telah melipahkan taufik dan hidayahnya  sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini ,Shalawat dan  salam  tidak lupa kita sanjung tinggikan kepada nabi Muhammad SAW.  Berkat  limpahan  dan rahmat-Nya saya  mampu  menyelesaikan  tugas  makalah bahasa indonesia ini, Makalah ini merupakan tugas bahasa indonesia fakultas pertanian program studi agribisnis .
Makalah ini membahas tentang berbicara dan cara berbicara dengan baik ,saya sangat berharap karya tulis ini dapat membantu kita untuk dapat berbicara dengan baik dan benar .
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang saya hadapi. Namun saya menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan,bimbingan dan doa orang tua, sehingga kendala-kendala saya dapat teratasi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca. kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen pembimbing  saya  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  kami  di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.
                                                                            

Jambi  12 oktober 2016

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                        ILHAM FIRDAUS                                          



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
        A.Latar belakang..........................................................................................................1
        B.Tujuan..........................................................................................................................2
        C.Manfaat........................................................................................................................2
BAB II Pembahasan...................................................................................................................................3
  1. Berbicara ..................................................................................................................3
  2. Tujuan berbicara.................................................................................................11C.Faktor-faktor Penunjang dan Faktor Penghambat Kegiatan      berbicara ........................................................................................................................4
D.Faktor penghambat berbiacara.........................................................................6
E.Faktor pendektan berbicara...............................................................................7
BAB IV    PENUTUP.....................................................................................................................................12
    A.Kesimpulan..............................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................................................13



















BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Manusia tidak lepas dari kegiatan berkomunikasi, dengan komunikasi kita semua dapat berhubungan satu sama lain. Seseorang yang mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik akan lebih mudah bergaul terutama dengan lingkungan masyarakat dan mudah mencari teman baru .
Keterampilan berbahasa merupakan modal utama dalam komunikasi yang terdiri dari 4 aspek yaitu: menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis, Komunikasi pula tidak lepas dari kegatan berbicara, maka dari itu keterampila berbicara dapat menunjang dalam berkomunikasi. Maka salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh sisa adalah berbicara, sebab keterampilan berbicara menunjang keterampilan lainnya .
Keterampilan ini bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat berbicara. Namun, keterampilan berbicara secara formal  memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif.memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan  setiap individu maupun kelompok.  Seseorang yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik, pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimakny. Kemampuan seseorang dalam berbicara juga akan bermanfaat dalam kegiatan menyimak dan memahami bacaan.
Akan tetapi, masalah yang terjadi di lapangan adalah tidak semua orang mempunyai kemampuan berbicara yang baik.Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan sedini mungkin. Pentingnya keterampilan berbicara atau bercerita dalam komunikasi juga diungkapkan oleh Supriyadi bahwa apabila seseorang memiliki keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun profesional.



B. Rumusan Masalah
Dengan melihat yang ada dala latar maka, penulis dapat menyimpulkan bahwa rumusan masalah yang dapat diambil adalah:
  1. Apakah yang dimaksud berbicara?
  2.  Apa sajakah tujuan berbicara?
  3.   Apa sajakah faktor penunjang kegiatan berbicara?
  4.  Apa sajakah faktor penghambat kegiatan berbiara?
  5. Bagaimana pendekatan pembelajaran bicara (PBB) ?

C. Tujuan Masalah
  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud berbicara.
  2. Untuk mengetahui apa tujuan berbicara.
  3.  Untuk mengetahui apa faktr penunjang kegiatan berbicara.
  4.   Untuk mengetahui apa faktor penghambat kegiatan berbicara.
  5. Untuk mengetahui pendekatan berbicara.

D. Manfaat
  1. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Bahasa Indonesia
  2.  Sebagai pelajaran dalam berbicara
  3. Sebagai bahan untuk mengekpresikan diri








BAB II

PEMBAHASAN
  1. Berbicara
Berbicara merupakan kepandaian manusia untuk mengeluarkan suara dan menyampaikan pendapat dari pikirannya ,Berbicara dapat merujuk ke:
Pengertian berbicara  adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan  ,Pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan, ide /gagasan.
Definisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule dalam Puji Santosa, dkk Berbica adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi bahasa untuk mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Pengertian ini pada intinya mempunyai makna yang sama dengan pengertian yang disampaikan oleh Tarigan yaitu bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata.
Haryadi dan Zamzani  mengemukakan bahwa secara umum berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Pengertian ini mempunyai makna yang sama dengan kedua pendapat yang diuraikan diatas, hanya saja diperjelas dengan tujuan yang lebih jauh lagi yaitu agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain..

Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian berbicara ialah kemampuan mengucapkan kata-kata dalam rangka menyampaikan atau menyatakan maksud, ide, gagasan, pikiran, serta perasaan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh penyimak.

  1. Tujuan Berbicara
Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Oleh karena itu, agar dapat menyampaikan pesan secara efektif, pembicara harus memahami apa yang akan disampaikan atau dikomunikasikan. Tarigan juga mengemukakan bahwa berbicara mempunyai tiga maksud umum yaitu untuk memberitahukan dan melaporkan (to inform), menjamu dan menghibur (to entertain), serta untuk membujuk, mengajak, mendesak dan meyakinkan (to persuade).
Secara umum, tujuan berbicara dapat terbagi atas 5 yaitu:
1) Berbicara untuk Menghibur
Menghibur adalah membuat orang senang dan bergembira. Dalam hal ini seorangpembicara menarik perhatian pendengar dengan cara yang menyenangkan, misalnyahumor, spontanitas, kisah-kisah jenaka, dan sebagainya.
2) Berbicara untuk Menginformasikan
Berbicara untuk tujuan menginformasikan dilaksanakan kalau seseorang berkeinginanuntuk :
    • Menerangkan atau menjelaskan sesuatu proses
    • Memberi atau menanamkan pengetahuan
    •  Menguraikan, menafsirkan, atau mengiterpretasikan sesuatu hal
    • Menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.

3) Berbicara untuk Menstimulasi
Menstimulasi merupakan kegiatan (berbicara) yang kompleks. Ketika menstimulasipendengar pembicara harus pintar merayu atau mempengaruhi pendengarnya. Hal inidapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahri minat, kebutuhan, dan cita-citapendengarnya.
4) Berbicara untuk Meyakinkan
Meyakinkan merupakan upaya seseorang agar orang lain bersikap tertentu. Melaluipembicaraan yang meyakinkan, sikap pendengar dapat diubah misalnya dari sikapmenolak menjadi sikap menerima. Melalui pembicara yang terampil dan disertaidengan bukti, fakta, contoh, dan ilustrasi yang mengena, sikap itu dapat diubah darimenolak menjadi menerima.
5). Berbicara untuk Menggerakkan
seseorang yang pandai menggerakkan massa. Dalam berbicara untuk menggerakkan contohnya kampanye .diperlukan pembicara yang pandai berorasi dan berkharisma. Melalui kepintarannyaberbicara, kelihaiannya membakar emosi, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambahpenguasaannya terhadap ilmu – jiwa massa, pembicara dapat menggerakkanpendengarnya.

C.Faktor-faktor Penunjang dan Faktor Penghambat Kegiatan Berbicara
Berbicara atau kegiatan komunikasi lisan merupakan kegiatan individu dalam usaha menyampaikan pesan secara lisan kepada sekelompok orang, yang disebut juga audience atau majelis. Supaya tujuan pembicaraan atau pesan dapat sampai kepada audience dengan baik, perlu diperhatikan beberapa faktor yang dapat menunjang keefektifan berbicara. Kegiatan berbicara juga memerlukan hal-hal di luar kemampuan berbahasa dan ilmu pengetahuan. Pada saat berbicara diperlukan a) penguasaan bahasa, b) bahasa, c) keberanian dan ketenangan, d) kesanggupan menyampaikan ide dengan lancar dan teratur.
Faktor penunjang pada kegiatan berbicara sebagai berikut. Faktor kebahasaan, meliputi a) ketepatan ucapan, b) penempatan tekanan nada, sendi atau durasi yang sesuai, c) pilihan kata, d) ketepatan penggunaan kalimat serta tata bahasanya, e) ketepatan sasaran pembicaraan. Sedangkan faktor nonkebahasaan, meliputi a) sikap yang wajar, tenang dan tidak kaku, b) pendangan harus diarahkan ke lawan bicara, c) kesediaan menghargai orang lain, d) gerak-gerik dan mimik yang tepat, e) kenyaringan suara, f) kelancaran, g) relevansi, penalaran, h) penguasaan topik.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan berbicara adalah faktor urutan kebahasaan (linguitik) dan non kebahasaan (nonlinguistik).

D. Faktor Penghambat Kegiatan Berbicara
Ada kalanya proses komunikasi mengalami gangguan yang mengakibatkan pesan yang diterima oleh pendengar tidak sama dengan apa yang dimaksudkan oleh pembicara. Tiga faktor penyebab gangguan dalam kegiatan berbicara, yaitu:
  1. Faktor fisik, yaitu faktor yang ada pada partisipan sendiri dan faktor yang berasal dari luar partisipan.
  2. Faktor media, yaitu faktor linguitisk dan faktor nonlinguistik, misalnya lagu, irama, tekanan, ucapan, isyarat gerak bagian tubuh, dan
  3. Faktor psikologis, kondisi kejiwaan partisipan komunikasi, misalnya dalam keadaan marah, menangis, dan sakit.
E. Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Pendekatan dalam pembelajaran kemampuan berbahasa dimaksudkan untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi guru dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang lebih baik. Definisi ini sesuai dengan harapan dalam proses belajar mengajar, yaitu siswa atau mahasiswa dapat memahami suatu konsep pengetahuan dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, pendekatan dalam proses belajar mengajar selalu mengalami perkembangan.
Pendekatan Pengalaman Berbahasa merupakan alih kata dari istilah Language Experience Approach (LEA). Seperti dikutip oleh Harjasujana bahwa Huff mendefinisikan LEA berdasarkan makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata pembentuknya, terutama kata experience dan language. Menurut Huff, experience merupakan pengalaman seseorang yang diperoleh dari aktivitas tertentu. Sementara itu, language merupakan cerminan dari empat aspek keterampilan berbahasa yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. LEA dimaknai sebagai suatu pendekatan dalam pengajaran berbicara yang melibatkan kegiatan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sebagai cerminan dari pengalaman berbahasa anak.

Oka Harjasujana, mengatakan bahwa pendekatan pengalaman berbahasa adalah metode pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa yang menggabungkan pembelajaran berbicara dengan pengalaman bahasa anak yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek yang harus diperhatikan dalam pembelajaran itu meliputi kemampuan berpikir dan kemampuan mengungkapkan bahasa.

Menurut Harjasujana hal-hal yang harus diperhatikan dalam Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB) adalah :
  1. PBB merupakan suatu pendekatan pengajaran.
  2. Materi ajar digali dari pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri.
  3. Pelaksanaan pembelajarannya melibatkan seluruh aspek keterampilan berbahasa siswa secara integratif.
Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Keunggulan Pendekatan Pengalaman Berbahasa antara lain :
  1. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa dimulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Maksudnya, materi bahan ajar yang digunakan untuk pengajaran berbicara sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak.
  2. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan terkadang menuliskan wacana yang tengah dikembangkan.
  3. Pendekatan Pengalaman Berbahasa mempunyai sifat wajar.
  4. Pendekatan Pengalaman Berbahasa tidak memerlukan banyak biaya
Suatu pendekatan yang diterapkan pasti memiliki kelemahan di balik keunggulannya. Kelemahan Pendekatan Pengalaman Berbahasa adalah sebagai berikut.
  1. Sifat Pendekatan Pengalaman Berbahasa hanya digunakan pada pengajaran penguasaan ketrampilan berbahasa tingkat awal. Selanjutnya, Pendekatan Pengalaman Berbahasa dapat dikembangkan pada pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis untuk tingkat lanjut. Hal ini dapat dikembangkan karena ada anak-anak yang duduk di kelas atas namun kemampuan penguasaan keterampilan berbahasanya masih berada pada peringkat permulaan.
  2. PBB menuntut waktu yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan pendekatan yang lain.
  3. PBB menuntut agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan dan sejumlah kosakata sehingga guru harus mengetahui apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran kemampuan berbahasa dengan menggunakan pendekatan pengalaman berbahasa ada beberapa keunggulan dan kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kelemahan-kelemahan tersebut diatasi terlebih dahulu.

Cara mengatasi kelemahan tersebut diantaranya sebagai berikut:
a. Guru terlebih dahulu harus mengetahui taraf keterampilan berbahasa siswa. Setelah itu guru dapat menerapkan Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pembelajaran keterampilan berbicara.

b. Karena Pendekatan Pengalaman Berbahasa menuntut waktu yang lebih banyak dari metode yang lain, maka guru terlebh dahulu membuat metode yang tepat dalam pembelajran berbicara denga Pendekatan Pengalaman Berbahasa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat tujuan pembelajaran dapat tercapai.

c. Karena dalam pembelajaran menggunakan Pendekatan Pengalaman Berbahasa melibatkan semua keterampilan berbahasa seperti menyimak, membaca, dan menulis, serta sejumlah kosakata, maka guru harus dapat memilih tema-temayang sesuai dengan kemampuan berpikir anak, dan kapan harus mengajarkannya kepada siswa.

Tujuan dan Asumsi Pendekatan Pengalaman Berbahasa
Pendekatan Pengalaman Berbahasa merupakan suatu pendekatan yang bisa digunakan untuk pengajaran berbicara yang diikuti oleh keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Bahasa lisan anak merupakan landasan utama dalam pengelolaan pembelajaran berbicara. Pendekatan Pengalaman berbahasa ini sangat menekankan arti pentingnya kondisi awal pembelajar dalam hal kemampuan bahasa lisan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran berbicara senantiasa diawali oleh penggalian pengalaman berbahasa anak yang diungkapkan secara lisan, kemudian direkam ke dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk kaset. Hasil rekaman inilah yang kemudian dijadikan alat untuk pembelajaran berbicara. Dengan kata lain, pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan belajar dari anak, untk anak, dan oleh anak.

Harapan dari pembelajaran dengan pendekatan seperti inii adalah pembelajar akan lebih berhasil manakala sejak awal si pembelajar meyakini dirinya mampu dan bisa melakukan sesuatu. Dengan bahan ajar yang digali dari siswa sendiri, siswa diharapkan lebih mudah memahami dalam pembelajaran. Dengan cara seperti ini siswa akan memiliki rasa percaya diri dan menganggap semua yang dipelajari adalah sesuatu yang bermakna (memiliki nilai guna).
Prosedur PBB dalam Pembelajaran Berbicara
Prosedur Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pengajaran berbicara memiliki empat langkah sebagai berikut.
  1. Mengidentifikasi minat, latar belakang pengalaman, dan fasilitas bahasa lisan anak.
  2. Pada langkah ini, guru berdialog atau mengadakan percakapan ringan dengan anak. Misalnya bertanya tentang nama, kesukaan, tentang berita atau kejadian aktual di sekitar lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekolah. Langkah ini dimaksudkan untuk merancang dan membangkitkan skemata anak, sehingga dia dapat mengeluarkan pikiran dan perasaannya pada saat guru memintanya.
  3. Merencanakan dan mendiskusikan pengalaman anak atau topik tertentu yang dipilih anak.
  4. Langkah ini dimaksudkan untuk menggali pengalaman bahasa anak. Melalui rangsangan tertentu yang kemudian dijadikan topik diskusi, guru membimbing anak untuk dapat mengekspresikan pengalamannya melalui bahasa lisan.
  5. Mencatat dan merekam bahasa (cerita) anak
  6. Pembelajaran pada tahap ini, siswa menuliskan ataupun membacakan hasil tulisannya di depan kelas. Hal ini dimaksudkan bahwa bacaan-bacaan lain yang ditulis orang lain dihasilkan melalui proses yang sama seperti yang dilihat dan dialaminya pada saat itu.
  7. Mengembangkan keterampilan anak sesuai dengan kebutuhan
  8. Pada langkah ini, barulah pembelajran yang sesungguhnya dimulai. Berdasarkan hasil rekaman pengalaman berbahasa siswa, guru mengawali pembelajaran berbicara. Dengan cara membacakan ataupun memperdengarkan hasil rekaman pada siswa, guru mengajarkan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara serta melatih keterampilan berbicara siswa sampai akhirnya siswa mempunyai keberanian dan keterampilan dalam menyampaikan gagasan, pendapat, ide, dan menceritakan kembali kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.
Penilaian Keterampilan Berbicara
Setiap kegiatan belajar perlu diadakan penilaian termasuk dalam pembelajaran kegiatan berbicara. Cara yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana siswa mampu berbicara adalah tes kemampuan berbicara. Pada prinsipnya ujian keterampilan berbicara memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara, bukan menulis, maka penilaian keterampilan berbicara lebih ditekankan pada praktik berbicara.

Untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan tertentu perlu ada penilaian. Penilaian yang dilakukan hendaknya ditujukan pada usaha perbaikan prestasi siswa sehingga menumbuhkan motivasi pada pelajaran berikutnya. Penilaian kemampuan berbicara dalam pengajaran berbahasa berdasarkan pada dua faktor, yaitu faktor kebahasaan dan nonkebahasaan. Faktor kebahasaan meliputi lafal, kosakata, dan struktur













BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan  ,pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan, ide /gagasan.kemudian mengemukakan tujuan berbicara diantaranya adalah untuk meyakinkan pendengar, menghendaki tindakan atau reaksi fisik pendengar, memberitahukan, dan menyenangkan para pendengar. Pendapat ini tidak hanya menekankan bahwa tujuan berbicara hanya untuk memberitahukan, meyakinkan,  menghibur, namun juga menghendaki reaksi fisik atau tindakan dari si pendengar atau penyimak.
Selanjutnya bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan berbicara adalah faktor urutan kebahasaan (linguitik) dan non kebahasaan (nonlinguistik). Selanjutnya faktor penghambat berbicara yaitu fisik,media serta psikolgis.










DAFTAR PUSTAKA
Diundu tanggal 11 oktober 2016 jam 15:12

Moestoro, Adjie. 2013. Pengertiantujuandanteskemampuan.
http://www.kajianpustaka.com/2013/06/pengertian-tujuan-dan-tes-kemampuan.html
Diundu tanggal 11 oktober 2016 jam 15:17


Sapitri, Lidia. 2014. Faktor-faktorpenunjangberbicara.
http://www.mediapidato.com/2014/12/faktor-faktor-penunjang-dan-faktor.html
Diundu tanggal 11 oktober 2016 jam 15:25